KOMUNISME
Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah
koreksi terhadap paham
kapitalisme di awal
abad ke-19,
dalam suasana yang menganggap bahwa kaum
buruh dan pekerja
tani hanyalah bagian dari
produksi
dan yang lebih mementingkan
kesejahteraan ekonomi.
Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa
faksi internal dalam komunisme
antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing
mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian
masyarakat sosialis untuk
menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat
utopia.
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan
komunis internasional.
Komunisme atau
Marxisme
adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh
partai
komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan
racikan ideologi ini berasal dari pemikiran
Lenin sehingga dapat pula
disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai
dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika
secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal
dengan
proletar
(
lihat:
The Holy Family), namun pengorganisasian Buruh hanya
dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran
Politbiro
sebagai
think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil
jika dicetuskan oleh Politbiro.
Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan
sistem partai
komunis
sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan
akumulasi modal pada individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan
sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus
dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata, Komunisme
memperkenalkan penggunaan sistem demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh
elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung
demokrasi
pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham
komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham
liberalisme.
Secara umum komunisme berlandasan pada teori
Materialisme Dialektika dan
Materialisme Historis oleh
karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan
demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa
"agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang
membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak
rasional
serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).
Indonesia pernah menjadi
salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an
adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di
Asia. Tokoh komunis nasional seperti
Tan Malaka
misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan
di berbagai negara seperti di
Cina,
Indonesia,
Thailand, dan
Filipina. Bukan seperti
Vietnam
yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di
Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan
dilanjutkan dengan
pembantaian yang banyak menimbulkan korban
jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga
diganjar
eks-tapol
oleh pemerintahan
Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam
melakukan ikhtiar hidup mereka.
Kelahiran
Komunisme di Indonesia tak bisa dilepaskan dari hadirnya orang-orang buangan
politik dari Belanda
dan mahasiswa-mahasiswa lulusannya yang berpandangan kiri. Beberapa di
antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka
yang masuk setelah Sarekat Islam (SI) Semarang sudah terbentuk.
Gerakan Komunis di Indonesia diawali di
Surabaya,
yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api
Surabaya
yang dikenal dengan nama
VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang
Eropa dan Indo Eropa saja,
namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi juga banyak yang bergabung.
Salah satu anggota yang menjadi besar adalah
Semaoen
kemudian menjadi ketua SI Semarang.
Komunisme kemudian juga aktif di
Semarang,
atau sering disebut dengan "Kota Merah" setelah menjadi basis PKI di
era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam
Sarekat Islam
menjadikan komunis sebagai bagian cabangnya, yang nantinya disebut sebagai
"SI Merah". ISDV sendiri sering menjadi salah satu organisasi yang
bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di
Jawa.
Konflik antara SI Semarang (SI Merah) dengan SI
pusat di
Yogyakarta
(SI Putih) mendorong diselenggarakannya kongres. Atas usulan
Haji Agus
Salim, yang disahkan oleh pusat SI, baik SI Merah maupun SI Putih
menyepakati bahwa personel SI Merah keluar dari SI. Mantan personel SI Merah
kemudian bersama ISDV berganti nama menjadi
PKI.
Kehancuran PKI fase awal bermula dengan adanya
Persetujuan Prambanan yang
memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh
Hindia-Belanda.
Tan Malaka
yang tidak setuju karena Komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba
menghentikan, namun para tokoh PKI lainnya tidak menggubris usulan tersebut,
kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan terjadi pada tahun
1926-
1927 yang berakhir dengan
kekalahan PKI. Para tokoh PKI menyalahkan Tan Malaka atas kegagalan tersebut,
karena telah mencoba menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang-cabang
PKI.
Gerakan PKI
bangkit kembali pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia, diawali oleh
kedatangan Muso
secara misterius dari Uni Soviet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota
di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan
lantang di Yogyakarta
dengan pandangannya yang murni Komunisme. Di Yogyakarta, Muso juga mendidik
calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit.
Muso dan pendukungnya kemudian menuju ke
Madiun, di sana
ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis.
Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno,
Amir
Syarifuddin. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri
pemberontakan Muso ini.
Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut, PKI
menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno
yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, di mana antar
ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru
dalam politik Indonesia. Ketegangan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas
saja, melainkan juga di tingkat bawah di mana tingkat ketegangan banyak terjadi
antara tuan tanah dan para buruh tani.
Soekarno sendiri yang cenderung ke kiri, lebih
dekat kepada PKI. Terutama setelah
Dekrit
Presiden pada 5 Juli 1959, politik luar negeri Indonesia semakin
condong ke
Blok Timur
(Blok Komunis Uni Soviet). Indonesia lebih banyak melakukan kerja sama dengan
negara komunis seperti
Uni Soviet,
Kamboja,
Vietnam,
RRT, maupun
Korea Utara
Di sisi lain, konflik dalam negeri semakin
memanas dikarenakan krisis moneter, selain itu juga terdengar desas-desus bahwa
PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan
kudeta. Militer
mencurigai PKI karena mengusulkan
Angkatan
Kelima (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian), sementara PKI
mencurigai
TNI
hendak melakukan kudeta atas Presiden Soekarno yang sedang sakit, tepat saat
ulang tahun TNI. Kecurigaan satu dengan yang lain tersebut kemudian dipercaya
menjadi sebab insiden yang dikenal sebagai
Gerakan 30 September, namun beberapa
ilmuwan menduga, bahwa ini sebenarnya hanyalah konflik intern militer waktu
itu.
Pasca
Gerakan 30 September, terjadi
pengambinghitaman kepada orang-orang komunis oleh pemerintah
Orde Baru.
Terjadi "pembersihan" besar-besaran atas warga dan anggota keluarga yang
dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara
limaratus ribu sampai duajuta jiwa meninggal di
Jawa dan
Bali setelah peristiwa
Gerakan 30 September, para "tertuduh
komunis" ini yang ditangkap kebanyakan dieksekusi tanpa proses pengadilan.
Sementara bagi "para tertuduh komunis" yang tetap hidup, setelah
selesai masa hukuman, baik di
Pulau Buru atau di penjara, tetap diawasi dan
dibatasi ruang geraknya dengan penamaan
Eks Tapol.